5 Tips Dalam Merekrut Tim Untuk Bisnis Anda

Hire team? Nih tips buat Anda.

1. Who to hire

Tidak perlu ikut-ikutan kalo Anda tidak punya konteks bisnis orang sebesar apa, kebutuhannya apa, bisnis modelnya gimana.

Sok-sokan punya CMO, COO, CFO biar terlihat keren padahal bisnis baru seumur jagung.

Mereka yang sudah punya jendralnya masing-masing biasanya karena omset sudah stabil dan bisnis model yang jelas revenue streamnya.

Jadi kalo start-up Anda yang masih merintis ikut-ikutan hire pentolan ya siap-siap kehabisan napas (baca:cash flow)

Terus gimana? Kan ada pepatah mengatakan ‘kalo mau jalan cepat, jalan sendiri. Tapi kalo mau jalannya panjang, maka jalan bareng2.’ ?

Ya hire orang untuk membantu Anda di bagian yang paling time consuming tapi high impact.

Kalo di bisnis Anda butuh design banget, dan Anda ga jago desain ya hire graphic designer.

Kalo customer support penting banget dan memakan waktu Anda paling banyak, ya hire cs.

Kalo Anda senengnya nulis dan bikin konten, kalo masih bisa dikerjakan sendiri ya kerjakan sendiri. Anggap saja itu bagian dari key activity Anda.

2. When to hire

Kapan waktu yang tepat untuk hire tim? 

Jawabannya adalah ketika Anda mampu secara finansial dan tidak mampu dari sisi delivery.

Skenarionya begini :

👉🏼  Jika Anda fulltimer tapi ga punya duit, kerjakan semua sendirian sampai punya cashflow untuk hire pelan-pelan.

👉🏼  Jika Anda fulltimer dan punya modal untuk diinvestasikan ke bisnis, pertimbangkan hire tim untuk mengcover job desc penting yang memang di luar kapasitas Anda. 

Kaya saya yang ga ngerti desain, maka saya akan hire graphic designer di awal untuk memudahkan hidup saya 😀

👉🏼  Tapi kalo Anda part-timer, yang masih kerja sambil bisnis, pertimbangkan untuk sisihkan gaji meng-outsource kerjaan-kerjaan yang bisa dioutsource agar hidup Anda tidak sengsara karena bisnis.

Mulai pertimbangkan untuk hire tim juga ketika Anda sudah mulai kesulitan dalam delivery. Gejalanya seperti kewalahan, missed dateline, tidak punya waktu buat keluarga.

3. Where to hire

Situs loker banyak di internet. Jobsdb, jobstreet, fb grup, referral dari temen/sodara, bahkan olx sekalipun.

Kalo outsource di indo juga banyak seperti sribulancer, freelancer, glints.

Kalo luar negeri bisa pake upwork atau fiverr.

Tim saya rata-rata dari jobstreet, facebook group relevan dan followers saya sendiri. So, don’t

4. DIY dulu

Jangan pernah mempekerjakan seseorang untuk melakukan sesuatu sebelum Anda mencobanya.

Dengan begitu, Anda akan lebih paham tentang pekerjaan tersebut.

Anda akan tau apa yang menjadi parameter sukses dari kerjaan tersebut.

Anda juga akan lebih paham bagaimana menulis job description yang realistis nantinya ketika Anda mulai hire seseorang untuk posisi tersebut.

Anda mungkin saja tidak butuh orang tersebut. Anda bisa outsource. Atau bahkan Anda bisa kerjakan sendiri karena tidak terlalu memakan resource Anda.

Pada saat yang bersamaan Anda juga akan menjadi seorang manager yang baik karena Anda sudah pernah melakukan pekerjaan tersebut.

Saya awalnya mengerjakan semuanya sendirian di bisnis saya.

Bikin landing page, sales page, nulis email, bikin konten sosmed, branding, design funnel, bikin lead magnet, basic design, membuat laporan keuangan yang basic, bahkan sampai menjadi customer service melayani email / chat yang masuk.

Barulah setaun kemudian saya mulai menghire tim operasional, tim finance, tim marketing, graphic design, video editor, legal, tax dkk.

Anda mungkin akan merasa payah dan kewalahan karena Anda merasa Anda tidak kompeten di bidang tertentu.

Itu wajar.

Belajar untuk belajar terlebih dulu.

Anda bisa mulai menghire ketika Anda sudah memahami setidaknya basic dari setiap aspek di bisnis Anda.

Jangan sampai Anda tidak tau apa-apa tentang bisnis Anda dan menyerahkan bisnis Anda sepenuhnya ke orang lain. Itu bahaya.

5. Hire karena butuh. Bukan karena kepengen. 

Ketika ingin hire team, selalu tanyakan ke diri sendiri pertanyaan seperti :

  • Bagaimana jika saya tidak hire orang untuk pekerjaan ini?
  • Apakah pekerjaan ini penting untuk dikerjakan?
  • Apakah pekerjaan ini bisa digantikan dengan software?
  • Apa yang akan terjadi jika saya menghilangkan pekerjaan ini?

Sama halnya ketika kehilangan seseorang di tim Anda. Jangan langsung cari replacementnya.

Biarkan dulu selama beberapa waktu. Bisa sebulan, dua bulan atau tiga bulan.

Lihat seberapa lama Anda bisa bertahan tanpa orang tersebut.

Apakah Anda benar-benar membutuhkan pengganti? Biasanya belum tentu.

So, bijaklah ketika ingin menghire tim.

Hire ketika Anda sudah ‘sakit’, bukan karena ingin senang.

Sebelum artikel ini berakhir saya ingin bertanya lebih dulu …

Anda pernah melihat ada orang yang hidup bahagia dengan menjalankan apa yang dia suka sekaligus mendapatkan keuntungan besar dari sana?

Yes, mereka adalah orang yang berhasil mengubah passion dan skill menjadi sebuah karir/bisnis menguntungkan.

Selama ini, saya sudah sering sekali membagikan value secara gratis bagaimana caranya untuk mendapatkan keuntungan dengan melakukan apa yang Anda suka.

Nah, kali ini, saya menjelaskan semuanya lebih detail lagi ke dalam sebuah buku berjudul “Turn Passion Into Profit”.

Saya membeberkan semua framework dan metode mengubah passion, hobi juga skill saya menjadi bisnis coaching yang profitable.

Anda bisa memahaminya lalu menconteknya untuk membangun bisnis Anda sendiri.

Jika Anda tertarik, klik disini untuk mendapatkan bukunya.

Yang perlu menjadi catatan Anda, buku ini bukan buku motivasi ya, tetapi senjata bagi Anda yang mau membangun kerajaan bisnis Anda sendiri.

So, happy reading!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *