Cara Meningkatkan Income 10x Meski Ads Tidak Lagi Semurah Dulu

Internet Entrepreneur

Bagaimana cara ngiklan gila-gilaan tapi tetap PROFITEBEL hingga 10x lipat?

Kali ini saya mau sharing salah satu alasan kenapa saya dan Rico akhirnya memutuskan untuk spend gila-gilaan meskipun Ads tidak semurah dulu.

Menurut saya mahal atau murah itu relatif. Tergantung Anda menilainya.

Misalkan, Anda bisa menghasilkan 100 ribu dari setiap 20 ribu yang Anda investasikan ke dalam Facebook, kira-kira murah atau mahal? Murah. Karena apa? Karena profit. 

Tapi mungkin angka 20 ribu itu mahal untuk sebagian advertiser. Dan itu sah-sah saja.

Jika Anda bertanya, alasan kenapa Facebook tidak lagi murah seperti 3 tahun yang lalu? Simpel. Karena jumlah advertiser yang semakin membludak.

Maka dari itu, saya sangat menyarankan Anda untuk menyalurkan traffic yang Anda dapatkan dari Facebook maupun Instagram ke channel Anda yang lain. 

Misalkan email, telegram channel, whatsapp, line dan sebagainya sehingga kapanpun Anda butuh traffic, maka Anda tinggal broadcast

Jangan sampai Anda menggantungkan bisnis Anda 100% ke pihak ke tiga seperti Facebook bahkan Google sekalipun. 

Satu hal yang saya pelajari dari guru marketing Dan Kennedy.

Siapapun yang bisa menghabiskan uang lebih banyak untuk mengakuisisi customer, maka mereka yang akan jadi PEMENANGnya.

Dan hal ini masih kami terapkan sampai sekarang.

Caranya gimana? 

Bukankah kita harus tetap memperhatikan profit ketika beriklan? Yes, of course! Kita ini tidak seperti brand-brand raksasa yang rela mengeluarkan uang banyak untuk pemasaran tapi tidak mendapatkan hasil yang signifikan. 

Awalnya saya dan Rico juga mengalami banyak trial dan error selama beriklan, hingga kami tidak kuat kalau ngiklan tapi ternyata tidak profit. 

Setelah berbagai cara kami gunakan, akhirnya kami menemukan satu kunci utama.

Nah, kuncinya utamanya ada di Sales Funnel dan Value Ladder, kami pun menggunakan konsep ini pada bisnis kami hingga sekarang.

Konsep ini kami tuangkan dengan cara membagikan buku gratis yang dimana Anda hanya perlu bayar ongkirnya saja.

Dari buku gratis ini, kami tidak mengharapkan profit. 

Jika bisa impas saja, itu sudah bagus banget. Artinya Anda bisa mendapatkan database pelanggan dengan gratis.

Anda spend 100 ribu di sini, dapat 100 leads yang mengambil buku gratis tersebut. 

Dan dari 100 leads ini kemudian kami tawarkan upsell ke offer yang lain dengan harga yang lebih tinggi. 

Tidak sampai di situ, database tersebut kami berikan value secara berkala dan kami bawa ke Sales Funnel berikutnya sehingga leads yang tadinya cuma spend 20 ribu untuk mendapatkan buku, jadi spend 300 ribu secara average di kami.

Memang tidak semua leads yang mengambil buku itu akan mengambil offer berikutnya, tapi secara average, nominal belanja dari 100 leads yang masuk ini akan melebihi biaya yang sudah kita keluarkan untuk iklan.

Dengan begitu, 100 ribu yang diinvest di awal, bisa menjadi 300 ribu di akhir. 

Nah, jika saya bertanya balik kepada Anda, apa yang akan Anda lakukan jika ternyata 100 ribu yang Anda cemplungin bisa jadi 300 ribu? Kalau saya sih bakal nyemplungin terus.

Sampai sini apakah Anda sudah paham?

Itu tadi sedikit gambaran tentang bagaimana Sales Funnel bekerja.

Mungkin Anda akan nyelutuk, “Ah Ron, kamu kan jualan produk digital. Bisnis modelnya beda dong?”

Oke, untuk lebih jelasnya mengenai apa itu konsep Sales Funnel. Anda harus punya Value Ladder terlebih dulu di bisnis Anda. 

Jika Anda belum tau apa itu Value Ladder, Anda bisa tonton di salah satu video Youtube saya yang membahas lebih jauh tentang Value Ladder, silahkan tonton videonya disini Konsep Value Ladder Untuk Grow Bisnis Anda

Karena pada dasarnya Anda harus tau apa yang akan Anda tawarkan ke customer Anda begitu mereka masuk ke dalam Sales Funnel Anda.

Sebagai contoh, Anda punya bisnis sepatu. Dan Value Ladder Anda kurang lebih seperti ini:

Tali sepatu led di harga 20 ribu, sepatu seharga 200 ribu, dan sepatu ekslusif dengan harga 400 ribu.

Anda jalankan iklan bukan jualan sepatu melainkan lempar tali sepatu led sebagai umpan untuk mengumpulkan database customer sebanyak mungkin. 

Disini Anda tidak mengharapkan untung, bisa impas saja sudah bagus. 

Kemudian Anda upsell dengan sepatu seharga 200 ribu begitu mereka add Anda di whatsapp, 1-2 minggu kemudian Anda tawarkan kembali kepada mereka dengan sepatu ekslusif dari Anda seharga 400 ribu. 

Intinya adalah memaksimalkan keuntungan yang bisa Anda dapatkan dari setiap pelanggan yang masuk menjadi database Anda atau dalam bahasa marketingnya meningkatkan life time value / nilai pelanggan seumur hidup.

Jika Anda tau dengan Anda spend 100 ribu sehari, Anda bisa mendapatkan 100 orang yang chat whatsapp, 20nya memutuskan untuk membeli tali sepatu Anda, 5 diantaranya memutuskan untuk mengambil upsell Anda saat itu juga, kemudian beberapa minggu kemudian Anda menawarkan mereka produk ekslusif Anda di harga 400 ribu dan ada 1 orang yang membeli.

Pertanyaannya 100 ribu yang Anda investasikan ini sudah menghasilkan berapa? Berapa rupiah yang berani Anda cemplungin ke dalam Facebook?

Nah, kesalahan yang banyak terjadi oleh pebisnis online di luar sana yang beriklan di Facebook tidak memahami konsep Sales Funnel dan Value Ladder ini.

Mereka hanya asal ngiklan. Nyemplungin uang sebanyak-banyaknya, ternyata malah jadi boncos.

Karena Anda yang memegang kendalinya, maka Anda pun harus tau strateginya, sistemnya, cara kerjanya hingga bagaimana cara Anda melayani customer.

Jika Anda memberikan pelayanan yang baik, tentu saja customer Anda akan berpikir 2 kali untuk mengambil penawaran Anda bahkan disaat penawaran Anda harganya cukup lumayan tinggi.

Selain itu, saya juga melihat banyak sekali advertiser atau pemilik bisnis yang sudah closing banyak, namun databasenya tidak dimaksimalkan sehingga rata-rata customernya cuma beli sekali. 

Dan yang paling parahnya adalah sekarang ini semakin banyak advertiser-advertiser kampret yang merusak ekosistem dengan cara nipu sana sini orderan customer tidak dikirim-kirim. 

Imbasnya kemana? Kepada para pemilik bisnis dan para pembeli. Dan ujung-ujungnya pembeli malas berbelanja selain di marketplace.

Dan satu lagi, kesalahan advertiser yang menggunakan konsep COD. 

Buat saya itu sebuah kemunduran. 

Bukankah dengan konsep COD ini malah merugikan?

Purchase behaviour masyarakat Indonesia dilatih untuk COD bukan online purchase padahal selaku pebisnis online, kita harus menanamkan bahwa semua sistem mulai dari pemasaran hingga barang sampai ditangan customer itu melalui online

Oke, di kesempatan lain saya akan membahas ini.

So, kesimpulannya, apapun bisnis Anda coba pikirkan terlebih dulu apa Value Ladder bisnis Anda dan gunakan Sales Funnel untuk membuat customer beli lagi dan beli lagi dari Anda. 

Dengan begitu, setiap rupiah yang Anda investasikan ke iklan akan menjadi lebih maksimal, bahkan Anda bisa mengalahkan kompetitor Anda.

Ingat! Siapapun yang berani spend lebih banyak untuk mengakuisisi customer, dialah PEMENANGnya.

Silahkan share artikel ini jika bermanfaat.

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *