Apakah Entrepreneurship Cocok Untuk Semua Orang?

Internet Entrepreneur

Banyak orang yang menganggap bahwa menjadi seorang entrepreneur adalah tolak ukur sebuah kesuksesan.

“Kalau Anda tidak jadi seorang entrepreneur, maka Anda tidak benar-benar hidup! Anda pasti malas! Anda pasti tidak berusaha! Jangan mau terkekang dengan terus-terusan menjadi karyawan! Freedom diutamain dong, Bro!”

Bagaimana tanggapan Anda setelah membaca pernyataan di atas? Apakah Anda setuju?

Akhir-akhir ini, saya banyak mendengar dan membaca tentang sebuah fenomena baru. Saya menyebutnya ini semacam ‘campaign’ yang bahkan saya sendiri tidak tahu siapa pencetus awalnya. Temanya berbunyi: Anda tidak menjadi seorang entrepreneur, berarti Anda tidak hidup. Tidak sukses. Tidak bahagia.

Wah, kalau ‘campaign’ ini beneran berhasil, saya pikir ini akan berbahaya. Standar ganda begini bisa membuat banyak orang pusing, minder dengan keadaannya saat ini. Atau, kemungkinan terburuk adalah depresi dikarenakan mereka merasa tidak sukses dan tidak bahagia hanya karena bukan seorang entrepreneur.

Padahal, menurut saya, entrepreneurship itu tidak cocok untuk semua orang. 

Lho, kenapa?!

Begini, ketika Anda tidak menjadi seorang entrepreneur tapi memilih untuk melakukan apa yang Anda senangi. Apakah itu masalah? Tentu saja bukan.

It’s totally OKAY! 

Kebahagiaan dan kesuksesan seseorang tidak bisa dinilai dari siapa kita. Simpelnya, bayangkan kalau semua orang menjadi entrepreneur, lalu siapa yang akan membantu kita dalam mengelola bisnis? Sebagai makhluk sosial, jelas kita tidak bisa melakukan segalanya dengan tangan sendiri. Kita butuh orang lain. Saya butuh orang lain. Anda pun butuh orang lain.

Jadi, siapa pun Anda saat ini, pekerjaan apa pun yang sedang Anda jalani, Anda hanya perlu nail down, bulatkan tekad dan crush it seperti kata Gary Vee. Maka Anda akan menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. 

Terdengar lebih adem bukan? Hehehe.

Ngomong-ngomong, kenapa saya setuju bahwa entrepreneurship itu tidak cocok untuk semua orang? 

Saya akan membahas hal ini karena menurut saya penting untuk disampaikan. Karena ngeri sekali melihat ‘campaign’ ini bertebaran di sosial media dengan ketidakjelasan maksud dan tujuan.

Jika Anda juga menjadi salah satu yang melihat postingan persuasif  itu dan merasa mulai terpengaruh, maka lanjutkan membaca ini hingga akhir. Okay?  

Yang paling penting adalah Anda harus memahami beberapa hal berikut ini.

Menjadi Seorang Entrepreneur Sama Seperti Pekerjaan Lainnya.

Hal ini benar adanya. Seorang entrepreneur tidak lebih baik dengan yang lain, begitupun sebaliknya. Menjadi seorang entrepreneur itu sama seperti pekerjaan-pekerjaan lain pada umumnya. Karena bisa saja Anda lebih merasa nyaman dan cocok di bidang finance dibandingkan dengan marketing. Atau, Anda lebih menyukai hukum dibandingkan science. Semuanya bebas memilih dan menjalani. 

Begitupun dengan entrepreneurship yang mungkin tidak cocok untuk Anda. Hanya karena Anda bukan seorang entrepreneur dan memilih menjadi apa yang Anda mau, lantas Anda terlihat bego? Tentu saja tidak. Apakah lantas Anda tidak bisa sukses? Juga tidak.

Pada kenyataannya, ada sebagian mentor saya, guru-guru saya, mereka bukanlah pengusaha. Sebut saja Lao Tzu, Napoleon Bonaparte, Einstein, Superman. Cobalah kenali mereka agar Anda bisa memandang dengan bijak tentang ‘campaign’ tak bertuan ini.

Jika Anda tidak kepikiran untuk menjadi entrepreneur, itu sama sekali bukan salah Anda. Anda berhak memilih untuk menjadi siapa. Ya, itulah Anda. Be yourself. Atau, saat ini Anda memang sudah menjadi siapa yang Anda mau? BAGUS! Lakukan sesuatu hanya jika Anda ingin melakukannya terlepas dari Anda itu seseorang yang punya atasan atau tidak.

Entrepreneur Harus Siap Bekerja Setiap Waktu

Terkadang saya iri dengan mereka yang berangkat-pulang kerja di jam yang sama dengan hati puas karena kerjaan hari itu sudah beres. Mereka tidak perlu mikirin angka-angka, perencanaan, strategi, ekspansi, kolaborasi, SDM, dan masih banyak lagi. 

Sebelumnya saya ingin bertanya, apakah Anda pernah terpikirkan ingin menjadi bos?

Jika iya, memang bagus!

Tapi yakin sudah siap setiap hari, setiap jam, bahkan  setiap menit harus peras otak mikirin bagaimana Anda bisa grow your business atau setidaknya survive biar tidak ketendang keluar dari permainan? Apakah Anda sadar bahwa setelah Anda jadi bos, maka setiap langkah yang Anda ambil itu bisa saja membunuh bisnis? Apakah Anda ingin hidup dalam kondisi di mana semua orang yang Anda pekerjakan beserta nasib keluarga mereka itu bergantung dari setiap keputusan yang Anda buat? Atau mungkin Anda hire teman dan ternyata Anda sendiri juga yang harus memecat mereka karena mereka bukan kandidat yang cocok untuk perusahaan?

Kebayang dilemanya?

Menjadi entrepreneur itu tidak mudah. Itulah kenapa saya bilang kalau entrepreneurship itu tidak cocok untuk semua orang. 

Masih mau jadi entrepreneur

Kehidupan Entrepreneur Kadang Menyebalkan

Belum ada kan yang bahas bagian tidak enaknya seorang entrepreneur di sosmed? 

Yang dibahas, yang ditunjukkan, yang dipajang di story ataupun feeds Instagram hanya baik-baiknya saja. Hanya enaknya saja. Glamour, fun, senyum sumringah dari owner yang bisnisnya jalan. Jalan di tempat mungkin. Apakah Anda tahu fakta dibaliknya? Tidak. Itu bukan kenyataan sesungguhnya, Kawan.

Jadi, berhentilah membandingkan hidupmu dengan cerita orang lain yang hanya bisa nampak lewat mata. Kita tidak pernah tahu real story dari mereka. Termasuk para entrepreneur itu.

Ya, entrepreneurship terkadang bisa menyebalkan. Sering malahan.

Kalau gitu, pertanyaannya, kenapa justru saya sendiri menjadi seorang entrepreneur

Saya melakukan ini karena tidak ada hal lain yang membuat saya merasa puas dan senang. Kalau ada hal lain, mungkin saya akan melakukan hal tersebut ketimbang harus menjadi entrepreneur. Setidaknya mungkin lebih mudah. Perhaps.

Saya ingat sewaktu saya masih menjadi pegawai swasta di salah satu perusahaan besar, saya pengen banget menjadi manager produksi. Saya merasa di situlah karir saya. Tapi begitu saya mengalami masa-masa sulit, saya tidak berusaha untuk melewatinya dengan baik. Itu karena menjadi manager, mendaki tangga korporasi bukan passion saya yang sesungguhnya. Saya tidak bersedia melakukan pe-er untuk bisa mencapai itu. I wouldn’t do all that it would take.

Jadi, poinnya adalah, entrepreneurship tidak lebih baik daripada menjadi karyawan. Entrepreneurship dan karyawan hanya sebatas berbeda. Kalau Anda menginginkan sesuatu yang berbeda, mungkin entrepreneurship memang cocok untuk Anda. Namun, kalaupun sekarang Anda sudah bahagia, tetap jalani, jangan pedulikan sosial media dengan pengaruhnya merugikan Anda! Sosial media memang baik, tapi ingat, segala sesuatu punya sisi buruknya.

Dengan menjadi seorang entrepreneur, tidak serta-merta membuat Anda menjadi satu-satunya yang punya superioritas secara moral maupun intelektual. Sebaliknya, entrepreneurship bisa membuat Anda terlihat lebih tolol. Serius. Lifestyle seorang entrepreneur seringkali tidak masuk di akal. Kalau memang Anda tahu Anda tidak perlu punya bisnis untuk bisa bahagia, maka Anda bisa lupakan entrepreneurship.

Seorang Entrepreneur Harus Obsesif

Untuk bisa berhasil dalam dunia entrepreneurship, Anda harus menjadi terobsesi. Setidaknya di awal memulai. Anda harus menaruh seluruh waktu, fokus, perhatian, uang, dan pikiran Anda di situ. Sehingga itu adalah sebuah kabar baik karena dalam kenyataannya, entrepreneurs yang berhasil di luaran sana itu bukan hasil dari ‘hoki’ belaka atau ‘bakat’. Mereka itu hasil dari obsesi mereka sendiri terhadap goal yang mereka bikin. 

Jadi bagaimana, apakah Anda masih berpikir menjadi seorang entrepreneur adalah satu-satunya orang yang sukses?

Dengarkan juga versi podcast-nya disini

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *