Kenapa Entrepreneurship Tidak Cocok Untuk Semua Orang?

Internet Entrepreneur

Akhir-akhir ini entrepreneurship seolah-olah menjadi konsep yang trending di kalangan anak muda tapi gak jelas.

Gak jelas tujuannya, gak jelas maksudnya, gak jelas alasannya.

Anda pasti sering melihat banyak postingan di sosmed yang isinya memberitahu Anda bahwa menjadi entrepreneur adalah satu-satunya kendaraan yang bisa membuat Anda FREEDOM

Kalau Anda tidak jadi seorang entrepreneur, maka Anda tidak benar-benar hidup! Anda pasti malas! Anda pasti tidak berusaha! and so on and so on… Passion lah, Uang lah, Hustle lah, Freedom lah. You name it.

Anda harus paham beberapa hal :

Entrepreneurship itu tidak cocok untuk semua orang. Dan itu FINE-FINE saja menurut saya. It’s totally OKAY!

Seperti pekerjaan-pekerjaan lain pada umumnya yang mungkin tidak cocok buat Anda. Tapi apakah karena pekerjaan tertentu tidak cocok buat Anda, lantas Anda terlihat bego? Kan enggak? Apakah lantas Anda tidak bisa sukses? Enggak juga kan?

Pada nyatanya, ada sebagian mentor saya, guru-guru saya, mereka bukanlah pengusaha atau entrepreneur. Lao Tzi, Napoleon Bonaparte, Einstein, Superman.

Bukan salah Anda kalau misalkan Anda hari ini sama sekali tidak kepikiran untuk menjadi entrepreneur. Ya, itulah Anda. Be yourself. Bagusss. Lakukan sesuatu hanya jika Anda ingin melakukannya terlepas dari Anda itu seorang punya atasan atau tidak.

Terkadang saya iri dengan mereka yang berangkat kerja dan pulang di saat jam pulang tiba dengan hati yang puas karena kerjaan hari itu sudah beres tanpa harus mikirin ‘angka-angka, perencanaan, strategi, ekspansi, kolaborasi, SDM, dan masih banyak lagi’.

Anda ingin menjadi boss ? Bagoes!

Tapi yakin sudah siap setiap hari setiap jam setiap menit harus peras otak mikirin bagaimana Anda bisa grow your business atau setidaknya survive biar tidak ketendang keluar dari permainan?

Apakah Anda sadar bahwa setelah Anda jadi boss, maka setiap langkah yang Anda ambil itu bisa saja membunuh bisnismu?

Apakah Anda ingin hidup dalam kondisi dimana semua orang yang Anda pekerjakan beserta nasib keluarga mereka itu tergantung dari setiap keputusan yang Anda buat?

Atau mungkin Anda hire teman Anda sendiri dan ternyata Anda sendiri juga yang harus memecat mereka karena mereka bukan kandidat yang cocok untuk perusahaan?

Masih mau jadi entrepreneur? Ada yang bahas bagian gak enaknya seorang entrepreneur di sosmed? Facebook? Instagram? Ada? Tidak.

Yang dibahas, yang di tunjukkin, yang dipajang di story ataupun feeds Instagram hanya yang baik-baik saja. Glamour, Fun, Senyum semringah, Owner jalan bisnisnya jalan. Jalan di tempat mungkin. Itu bukan kenyataan sesungguhnya, kawan.

Entrepreneurship terkadang bisa menyebalkan. Sering malahan.

Saya melakukan ini karena tidak ada hal lain yang membuat saya merasa puas dan senang. Kalau ada hal lain, mungkin saya akan melakukan hal tersebut ketimbang harus menjadi entrepreneur. Setidaknya mungkin lebih mudah. Perhaps.

Saya ingat sewaktu saya masih menjadi pegawai swasta di salah satu perusahaan besar, saya kepingin banget menjadi manager produksi. Saya merasa di situlah karir saya. Tapi begitu saya mengalami masa-masa sulit, saya tidak berusaha untuk melewatinya dengan baik. Itu karena menjadi manager, mendaki tangga korporasi bukan passion saya yang sesungguhnya. Saya tidak bersedia melakukan pe-er untuk bisa mencapai itu. i wouldn’t do all that it would take.

Poinnya adalah, entrepreneurship tidak lebih baik daripada menjadi karyawan. Entrepreneurship dan karyawan hanya sebatas berbeda. Kalau Anda menginginkan sesuatu yang berbeda, mungkin entrepreneurship cocok untuk Anda.

Menjadi seorang entrepreneur tidak membuat Anda menjadi superior secara moral ataupun intelektual terhadap orang-orang yang punya pekerja nine to five bahkan sebaliknya entrepreneurship bisa membuat Anda terlihat lebih tolol. Serius. Lifestyle seorang entrepreneur seringkali tidak masuk di akal. Kalau memang Anda tau Anda tidak perlu punya bisnis untuk bisa bahagia, maka Anda bisa lupakan entrepreneurship.

Untuk bisa berhasil, Anda harus menjadi terobsesi. Setidaknya di awal memulai. Anda harus menaruh seluruh waktu, fokus, perhatian, uang, pikiran Anda di situ. Dan itu adalah sebuah kabar baik karena dalam kenyataannya, entrepreneurs yang berhasil di luaran sana itu bukan hasil dari ‘hoki’ belaka atau ‘bakat’. Mereka itu hasil dari obsesi mereka sendiri terhadap goal yang mereka bikin.

Mau denger Audio Version nya, klik di bawah ini ya..

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *