Mana yang Lebih Penting, Personal Branding atau Corporate Branding?

Internet Entrepreneur

Ada banyak sekali pertanyaan “Saya punya bisnis XYZ. Apakah saya harus bangun personal branding? Atau saya harus fokus ke corporate branding saja?” yang saya dapatkan.

Memang ide dari personal branding ini tidak lazim untuk kebanyakan orang. Tapi Anda harus tahu, sekarang itu zaman informasi. Zaman di mana Anda bisa jadi terkenal hanya dalam hitungan hari bahkan hitungan jam. Tentunya juga secara gratis. Lantas, apa artinya jika Anda menjadi terkenal? Anda akan mendapatkan jangkauan besar, publisitas gratis, dan secara tidak langsung bisnis Anda juga akan ikut terdampak.

Jadi, haruskah Anda melakukan personal branding? 

Sebelum kita membahas perlu tidaknya personal branding, kita harus paham terlebih dulu apa itu personal branding.

Saya suka dengan cara Pandji menjelaskan tentang personal branding. Simpel, yaitu kegiatan Anda mengatakan kepada dunia siapa diri Anda. Lewat apa? Lewat karya. Lewat produk. Lewat jasa. Saya encourage Anda untuk melakukan itu.

Bagaimana dengan mereka yang koar-koar di sosmed tapi isinya kosong? Apakah itu personal branding juga? Iya. Kembali lagi, personal branding adalah kegiatan mengatakan kepada dunia siapa diri Anda. Terlepas dari bagaimana caranya. Etis atau enggak. Kita akan bahas ini di lain hari, agar tidak out of context.

Terus, apa itu corporate branding? Bedanya dengan personal branding itu apa?

Branding itu banyak definisinya. Ada yang menganggap branding itu adalah kegiatan pemasaran dalam menciptakan logo, nama atau desain untuk mendiferensiasi produk mereka dari kompetitor. Kenapa harus branding? Tidak lain adalah untuk boost profit. Anda tidak akan bisa mendapatkan profit jika produk/jasa Anda adalah komoditas alias “BBA (Biasa-Biasa Aja)”

Buat saya, branding itu adalah salah satu bagian dari pemasaran untuk menciptakan unforgettable experiences atau dalam arti lain menciptakan pengalaman yang tidak terlupakan kepada customer.

Bagaimana pengalaman customer belanja di tempat Anda, bagaimana proses mereka checkout, bagaimana customer service Anda menyapa customer Anda via telepon, email yang Anda kirimkan seperti apa, proses pengiriman produk atau jasa Anda bagaimana, itu semua adalah branding.

Saya beri contoh Zappos.

Zappos adalah perusahaan penjual sepatu dan pakaian online terbesar yang berdiri sejak tahun 1999. Pada tahun 2009 diakuisisi oleh Amazon, perusahaan multinasional tersukses dan retailer terbesar di internet. Zappos dibeli dengan deal saham senilai 1,2 miliar dollar!

Yang menarik dari Zappos adalah dia mempunyai brand yang begitu kuat dan sukses sehingga 75% penjualannya itu berasal dari repeat order. Bandingkan dengan toko Anda, berapa persen customer Anda yang melakukan repeat order?

Lalu experience seperti apa yang Zappos tawarkan untuk customernya? 

  • Customer service (CS) yang luar biasa. CS mereka diizinkan untuk melayani customer sebaik mungkin bahkan bisa diajak ngobrol untuk topik di luar jual-beli. Curhat pun diladenin!
  • Stok yang selalu available. Tidak ada istilah customer lagi mupeng banget dengan sepatu A, tetapi dijawab ‘maaf ya kak stok lagi kosong’.
  • Terakhir adalah delivery yang gila banget. Mereka bahkan menghadirkan garansi barang kembali dalam 1 tahun!

Pertanyaannya, apakah Tony Hsieh sang pemimpin Zappos melakukan personal branding? No, he doesn’t. Namun mereka tetap sukses.

Jadi personal brand tidak penting dong dalam bisnis? Saya akan menjawab dengan cepat kalau itu penting tapi tidak wajib. Kenapa? Ketika kita membahas tentang personal brand vs corporate brand, saya pikir penting untuk Anda mengetahui pro dan cons dari 2 strategi tersebut agar Anda tahu mana yang lebih efektif. Ya, intinya itu. Jalankan yang paling efektif untuk bisnis Anda.

Supaya Anda jauh lebih paham mengenai personal brand dan corporate brand ini, saya akan menjabarkan dalam beberapa poin penting di bawah. 

Waktu yang Tepat untuk Personal Branding 

Tidak ada waktu yang lebih tepat dibandingkan sekarang untuk mulai membangun personal brand Anda. Kita sekarang hidup di zaman yang sangat berkelimpahan dengan bantuan teknologi. Tersedia begitu banyak tools untuk membuat website, juga sosial media yang bisa Anda gunakan untuk menjalankan personal branding Anda.

Tantangan terbesarnya adalah Anda ingin dikenal sebagai apa? Biasanya setelah Anda memutuskan untuk menjadi sosok tersebut, Anda akan dihadapi lagi pertanyaan yang bergumul dalam diri Anda sendiri, ‘is this what i want’? 

Ada orang yang nyaman kehidupannya diekspos, ada yang sakral. Ada yang suka dengan lampu di pentas, ada yang tidak. Jadi pikirkan baik-baik.

Mari kita bahas tentang pro dan cons dari personal brand dan corporate brand.

Pro dan Kontra dari Personal Branding

Pertama, kita bisa lihat dari sisi pro dulu. Personal brand itu fleksibel. Jika Anda melakukan corporate branding untuk sebuah produk atau jasa tertentu yang Anda tawarkan ke marketplace, kemungkinan ketika Anda ingin mengganti fokus itu akan menjadi kendala. Sedangkan personal brand itu adalah Anda membangun persepsi orang terhadap Anda. Nama Anda. Sehingga akan lebih mudah ketika Anda ingin berganti fokus. 

Let’s say, di awal Anda melakukan branding sebagai seorang influencer, lima tahun kemudian Anda berganti fokus menjadi investor. Itu bisa dengan mudah dilakukan. Tapi tidak dengan corporate branding.

Jika Anda ingin menjadi seorang pembicara, maka personal branding adalah cara paling efektif yang bisa Anda lakukan dengan menyesuaikan bidang keahlian Anda. begitupun jika Anda seorang penulis, artis, Youtuber, maka dengan punya personal branding yang kuat akan membantu bisnis Anda. Dengan personal branding, biasanya Anda juga akan lebih mudah membangun trust dan positioning sebagai seorang leader di industri Anda.

Sekarang, kita lihat bagaimana dari sudut pandang kontra. Ketika Anda sudah berinvestasi banyak di personal brand Anda, maka tentunya Anda harus menghubungkan personal brand Anda dengan apa yang Anda lakukan. Misalnya, Anda selalu meletakkan nama Anda di video youtube yang di-posting, website, halaman penjualan Anda and so on.

Kemudian resikonya adalah, jika terjadi sesuatu pada Anda entah itu masalah pribadi, masalah kesehatan, masalah hukum maka biasanya bisnis Anda yang melekat pada personal brand Anda juga akan berdampak.

Selain itu, tentunya jika Anda punya plan jangka panjang untuk exit dari bisnis Anda, mungkin melakukan personal branding adalah hal yang perlu Anda pertimbangkan lagi.

Waktu yang Tepat untuk Corporate Branding 

Anda butuh effort yang lebih besar dalam menjalankan corporate branding. Kenapa? Karena Anda tidak menggunakan nama besar Anda yang sudah Anda bangun kredibilitasnya selama ini, melainkan Anda harus mulai dari nol di mana orang-orang tidak mengenal brand Anda, company Anda.

Pro dan Kontra dari Corporate brand

Pertama, kita berbicara mengenai pro dari corporate branding. Ketika Anda fokus pada corporate branding, maka Anda harus memikirkan long term plan. Anda sedang maraton, bukan sprint. Anda harus punya visi untuk melihat kemana bisnis Anda akan Anda bawa.

Bahkan untuk nama brand Anda sekalipun, Anda harus mempertimbangkan siapa target market Anda, apa yang ditawarkan bisnis Anda, ingin bisnis Anda dikenal sebagai apa, bagaimana Anda ingin menjadi anti mainstream dan membedakan bisnis Anda daripada yang lain.

Corporate brand yang sukses juga akan lebih gampang dijual nantinya jika Anda ingin exit dari bisnis Anda ketimbang personal brand. As long as brand Anda cukup ngangenin.

Kemudian bagaimana dengan kontra corporate branding? Dari segi resources, corporate brand butuh resources yang lebih banyak dibandingkan personal brand. Anda harus bisa menggambarkan secara utuh bagaimana perusahaan Anda sambil Anda membangun super tim Anda dan culture di dalamnya.

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, corporate brand itu tidak mudah di-switch. Jika Anda ingin merubah haluan, maka biasanya yang harus Anda lakukan adalah Anda harus bangun bisnis baru. Anda tidak bisa tiba-tiba merubah bisnis sepatu Anda menjadi bisnis buku begitu saja.

Itulah beberapa hal mengenai pro dan kontra, baik dari personal branding maupun corporate branding. Selanjutnya, saya akan memberitahu Anda hal-hal penting dalam membangun personal brand yang baik. Karena kebetulan saya juga menjalankan personal branding di bisnis saya, maka saya akan bagikan sedikit ke Anda bagaimana caranya membangun personal brand yang baik versi saya.

Pondasi

Hal pertama yang paling penting buat saya adalah pondasi.

Anda seharusnya membangun sebuah personal brand yang Anda sendiri bisa hidupi selama 24 jam setiap hari. Kuncinya adalah Anda harus tahu siapa diri Anda. Be yourself. BBe self-aware. Harus otentik. Jangan munafik. Tidak ada topeng. Tidak ada dusta di antara kita.

Banyak yang mengira personal branding itu sama dengan membentuk persona. Padahal beda. Kalau kita membentuk personal branding sama dengan persona, maka yang ada hanyalah kepura-puraan. Pencitraan.

Mulailah dengan menggali apa yang ada di dalam diri Anda saat ini. Skill apa yang Anda punya. Apa yang Anda suka. Passion Anda dimana. Apa core value dan belief Anda. Setelah itu, baru Anda sandingkan dengan visi dan misi brand Anda, message apa yang ingin Anda sampaikan ke dunia lewat brand Anda, ciri khas brand Anda mau seperti apa.

Sebab sebuah brand yang baik itu dimulai dari tahu dulu siapa diri kita sebenarnya, nilai apa yang kita perjuangkan, paham apa yang dibutuhkan marketplace, dan positioning diri kita.

Avatar

Anda harus ingat bahwa tidak semua orang adalah klien Anda. Tidak semua orang harus Anda layani. 

Seringkali ketika menjalankan personal branding, kita berusaha menyenangkan semua orang. Berharap mereka bisa jadi klien kita suatu saat. STOP! Anda seharusnya menjadi siapa diri Anda, kemudian menarik orang-orang yang memang satu vibrasi dengan Anda. 

Kembali lagi ke masalah pondasi di poin pertama. Apa value Anda? Belief Anda? Jangan demi uang dan demi popularitas, lantas mengorbankan value yang selama ini Anda perjuangkan hanya karena marketnya besar! 

Fenomena ini semacam racun baru yang mungkin lebih bikin “nagih” daripada narkoba di zaman informasi sekarang ini. Saya melihat banyak sekali orang yang terbuai dengan pujian, likes, comment, vanity metrics lainnya sehingga melupakan esensi personal brandingnya (Ini akan saya bahas di lain waktu). 

Jika Anda sudah mengikuti saya sejak lama Anda pasti tahu ketika saya ditanya tentang penting atau tidak kuliah, jawaban saya selalu sama, yaitu penting tapi tidak menjamin.

Saya bahkan beberapa kali membuat konten yang menyinggung topik tersebut dan selalu kontroversi. Ada yang menghujat saya. Ada juga yang membela. Lantas apakah saya berhenti menyuarakan pendapat dan pandangan saya ketika ada yang menghujat? No! Saya tetap perjuangkan pendapat saya. Karena saya punya argumen sendiri dan alasan sendiri kenapa saya bilang kuliah itu penting tapi tidak menjamin. 

Sama seperti ketika Anda menonton Avengers: End game, tidak semua orang setuju dengan perbuatan Thanos menghilangkan setengah populasi dunia, tapi ada juga yang setuju demi dunia yang lebih baik.

Begitupun Anda ketika sedang membangun personal branding. Perjuangkan apa yang menjadi belief dan core value Anda. 

Lalu, untuk mencari customer avatar atau customer impian Anda, Anda bisa mulai cari tau tentang demografi mereka (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, penghasilan, pekerjaan, dan lain-lain). Kemudian cari tahu hasrat dan impian mereka itu apa. Apa yang menjadi pain point mereka. Tantangan mereka saat ini apa untuk mencapai impian mereka.

Setelah itu, baru kemudian Anda menyusun cerita, pesan yang bisa Anda relate atau hubungkan dengan semua itu. Pesan-pesan itulah yang nantinya Anda sampaikan berulang-ulang di setiap kegiatan personal branding Anda.

Optimasi Website Pribadi Anda

Jika memang Anda saat ini belum punya website dengan domain nama Anda sendiri yang Anda gunakan untuk personal branding, ada baiknya Anda bikin sekarang.

Sosial media itu memang penting untuk personal branding, tapi jangan lupa traffic yang masuk ke sosial media itu tidak terkontrol. Anda tetap butuh website atau istilah yang lebih saya suka adalah sebuah landing page untuk mendaratkan calon customer. Sehingga mereka bisa memahami siapa Anda selangkah lebih jauh sekaligus meng-convert mereka menjadi subscriber Anda.

Saya sudah membuat artikel tentang konversi landing page, silakan baca artikelnya di sini Bagaimana caranya mendapatkan conversion rate landing page yang baik

Berbicara mengenai website, usahakan website Anda didesain seprofesional mungkin. Gunakan logo profesional, jangan menggunakan logo gratisan dari canva.com. Selain itu, di website juga harus tertera jelas apa value proposition Anda, foto Anda yang keren, social proof seperti testimoni dan Call-to-action untuk join webinar Anda, join mailing list Anda atau apapun yang Anda inginkan calon customer Anda lakukan untuk berinteraksi lebih jauh dengan Anda demi membangun trust. 

Jangan lupa juga bikin halaman product atau istilahnya product page untuk menampilkan produk atau jasa apa yang Anda tawarkan di bisnis Anda untuk bisa membantu mereka.

Buat strategi konten

Berkarya melalui konten adalah taktik personal branding yang paling saya senangi. Lewat karya Anda, orang lain mengenal siapa Anda. Jadi tidak sekedar cuap-cuap. Dengan membuat konten, akan membangun trust antara Anda dengan audiens, juga membangun authority Anda di industri tersebut.

Untuk membuat konten, Anda bisa mulai dengan mengumpulkan semua list topic yang disukai audiens Anda. Caranya bisa dengan menggunakan buzzsumo, Quora, Google Keyword Planner.

Ketika saya bicara konten, ada banyak sekali jenisnya. Konten itu bukan cuma sekedar tulisan. Tapi bisa juga video, podcast, webinar, online course, studi kasus, slideshows, infografis, dan masih banyak lagi. Kalau untuk media kontennya sendiri, ada blog, platform podcast seperti anchor dan spotify, Youtube, Sosmed, Email, Slideshare, dan lain-lain.

Kalau sudah paham mengenai konten, lalu pertanyaan selanjutnya adalah, seberapa sering Anda harus upload konten? Saya menyarankan quality over quantity. Jika memang Anda membutuhkan waktu 3 hari untuk membuat sebuah konten yang berkualitas, maka stick to that. Jangan mengesampingkan kualitas hanya untuk mengedepankan kuantitas meskipun algoritma sebagian besar sosmed sekarang itu mengharuskan Anda posting sesering mungkin untuk mendapatkan reach yang lebih tinggi. You choose.

Bangun komunitas

Daripada Anda berusaha untuk memangun kolam yang super besar dan berharap Anda bisa melayani semua orang di sana, lebih baik Anda mengubah fokus Anda untuk memimpin sebuah komunitas kecil yang spesifik atau istilahnya niche.

Tentukan siapa target market Anda, avatar Anda, dan bangun komunitas sebagai wadah mereka untuk saling berinteraksi satu sama lain, berbagi kisah dan ide, saling support dan bisa terhubung ke Anda secara langsung.

Bikin komunitasnya dimana? Bisa di Facebook Group, Kopdar (kopi darat), bikin membership site online dimana hanya member yang bisa akses, atau bikin semacam forum.

So, long story short, kita hidup di zaman yang berkelimpahan dengan resources berkat teknologi. Halangan-halangan untuk memulai bisnis saat ini detik ini juga hampir tidak ada selain niat itu sendiri. Siapapun bisa membangun personal branding, dan menjual produk atau jasa mereka ke audiens mereka.

Tapi apakah personal branding itu wajib? Tidak. 

Penting? Iya.

Itulah beberapa hal mengenai penting dan tidaknya personal branding dan corporate branding. Saya harap bisa berguna buat teman-teman yang saat ini masih atau sedang galau mikirin apakah Anda harus personal branding atau tidak.

Silahkan share artikel ini jika dirasa bermanfaat untuk Anda.

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *